
Putaway: Barang Sudah Diterima, Lalu Disimpan di Mana?
Putaway adalah proses memindahkan barang dari area penerimaan ke lokasi rak lalu mencatatnya. Pelajari aturan penempatan dan kesalahan yang sering terjadi.
Stok di sistem beda dengan di rak? Kenali 4 penyebab selisih stok gudang, cara menelusurinya, dan cara memulai cycle count agar akurasi stok terjaga.
Selisih stok kebanyakan berasal dari pencatatan, bukan barang hilang. Kuncinya: scan setiap pergerakan saat itu juga dan lakukan cycle count.
Selisih stok gudang terjadi ketika jumlah barang di sistem berbeda dengan jumlah di rak. Penyebabnya kebanyakan bukan barang hilang, tapi pencatatan: barang dipindah lokasi tanpa dicatat, barang rusak atau retur tidak diinput, salah ambil varian, dan barang keluar-masuk tanpa di-scan.
Bayangkan sistem mencatat 10 unit, tapi di rak hanya ada 7. Reaksi pertama biasanya "barangnya hilang". Padahal sering kali barangnya masih ada di gudang, hanya catatannya yang tidak mengikuti kejadian sebenarnya.
Sebuah studi di jurnal Manajemen IKM IPB mengelompokkan penyebab ketidakakuratan catatan stok menjadi empat: shrinkage (barang berkurang, misalnya karena dicuri atau rusak), spoilage (kerusakan barang), misplaced inventory (barang ada di gudang tapi tidak ditemukan di lokasi simpannya), dan transaction errors (salah catat jumlah saat barang masuk dan keluar). Dua kelompok terakhir murni soal pencatatan dan penempatan.
Barang digeser ke rak lain karena raknya penuh, atau ditaruh sementara di dekat area kemas. Sistem masih mencatat lokasi lama. Saat dicari di lokasi lama, barang "tidak ada". Inilah yang disebut misplaced inventory. Kebiasaan mencatat lokasi saat putaway, yaitu saat barang ditempatkan ke lokasi simpan, adalah pencegahan pertamanya.
Barang pecah dipisahkan ke pojok, atau barang retur dari pelanggan ditumpuk menunggu dicek. Kalau tidak dicatat, sistem masih menganggap barang rusak itu siap jual, atau barang retur belum masuk ke stok.
Picking adalah proses mengambil barang dari rak sesuai pesanan. Kalau varian tertukar, misalnya ukuran M terambil padahal yang dipesan ukuran L, dua catatan langsung salah sekaligus: stok M di sistem terlalu banyak, stok L terlalu sedikit. Memahami SKU dan varian membantu mencegah salah ambil seperti ini.
Barang dipinjam untuk foto produk, dikirim mendadak tanpa dokumen, atau diterima pemasok tanpa dicatat. Pergerakan fisiknya terjadi, tapi sistem tidak tahu.
Kalau sistem mencatat stok lebih banyak dari yang sebenarnya, toko atau tim penjualan akan menerima pesanan untuk barang yang tidak ada. Kondisi ini sering disebut phantom inventory: barangnya ada di sistem, tapi tidak ada di rak. Akibatnya pesanan dibatalkan, pelanggan kecewa, dan tim gudang membuang waktu mencari barang yang tidak ada.
Sebaliknya, kalau sistem mencatat stok lebih sedikit, Anda bisa memesan ulang barang yang sebenarnya masih ada. Ujungnya stok menumpuk tanpa disadari.
Sebelum mengoreksi angka di sistem, telusuri dulu penyebabnya dengan daftar periksa ini:
Ilustrasi berikut fiktif, untuk menunjukkan cara kerja daftar periksa ini.
CONTOH Sistem mencatat 10 kaus ukuran L, tapi di rak hanya ada 7. Petugas mengecek rak di sekitarnya dan tidak menemukan apa-apa. Lalu ia mengecek varian mirip: ukuran M ternyata lebih 3 dari catatan sistem. Transaksi terakhir menunjukkan ada 3 pesanan ukuran M kemarin. Kesimpulannya, saat picking, kaus L terambil untuk pesanan M. Barangnya tidak hilang, hanya tertukar dan sudah terkirim ke pelanggan.
Dari contoh ini, perbaikannya bukan sekadar mengoreksi angka, tapi juga memeriksa kenapa ukuran L dan M bisa tertukar. Mungkin labelnya mirip, letaknya bersebelahan, atau picking tidak memakai scan.
Pencegahan paling efektif sederhana: setiap pergerakan barang dicatat atau di-scan saat itu juga, bukan nanti sore atau besok. Barang masuk, dipindah, diambil, dikirim, rusak, atau diretur, semuanya dicatat ketika terjadi.
Ini juga berarti tidak ada "jalan pintas" di alur proses gudang. Barang yang dipinjam sebentar tetap dicatat keluar. Barang yang dipindah sementara tetap dicatat lokasinya.
Cycle count adalah teknik audit akurasi persediaan dengan menghitung sebagian stok secara terjadwal dan bergiliran. Jurnal Manajemen IKM IPB menekankan bahwa penghitungan dilakukan dengan siklus terjadwal, bukan hanya sekali setahun. Hasilnya, selisih ketemu lebih cepat, sehingga penyebabnya masih mudah dilacak.
Tidak semua barang perlu dihitung dengan frekuensi yang sama. Studi di jurnal IPB tadi memakai pengelompokan ABC berdasarkan perbandingan nilai tiap barang. Prinsip praktisnya: barang bernilai tinggi dan barang yang paling sering bergerak dihitung lebih sering, karena dampak selisihnya lebih besar dan peluang salah catatnya lebih tinggi. Anda bisa membaca istilah cycle count bersama istilah gudang lain untuk memperkuat dasar.
Penyebab yang paling sering adalah pencatatan yang tidak sesuai kejadian di lapangan: barang dipindah lokasi tanpa dicatat, barang rusak atau retur tidak diinput, salah ambil varian saat picking, atau barang masuk dan keluar tanpa di-scan. Kehilangan karena pencurian memang bisa terjadi, tapi jangan langsung menyimpulkan itu sebelum pencatatannya ditelusuri.
Cycle count adalah teknik audit akurasi persediaan dengan menghitung sebagian stok secara terjadwal dan bergiliran, bukan menghitung semuanya sekaligus setahun sekali. Hasil hitungan dibandingkan dengan catatan sistem, lalu setiap selisih dicari penyebabnya sebelum angkanya dikoreksi.
Stock opname biasanya menghitung seluruh stok sekaligus, sering dengan menghentikan aktivitas gudang. Cycle count menghitung sebagian barang setiap hari atau setiap minggu secara bergiliran, sehingga operasional tetap berjalan dan selisih lebih cepat ketahuan.
Telusuri dulu penyebabnya: cek lokasi di sekitar, varian yang mirip, transaksi terakhir, serta catatan retur dan barang rusak. Setelah penyebab ketemu, koreksi angkanya dan perbaiki prosesnya, misalnya dengan mewajibkan scan di setiap pergerakan barang. Lalu jalankan cycle count rutin agar selisih berikutnya cepat terdeteksi.

Putaway adalah proses memindahkan barang dari area penerimaan ke lokasi rak lalu mencatatnya. Pelajari aturan penempatan dan kesalahan yang sering terjadi.

Barang datang dari supplier? Cek 4 hal ini sebelum tanda tangan: dokumen, jumlah, kondisi, serta batch dan kedaluwarsa. Lengkap dengan contoh checklist.

Alur proses gudang ada 5 langkah: terima, simpan, ambil, kemas, kirim. Pahami apa yang dicek dan dicatat di setiap langkah agar barang tidak hilang di rak.
Follow Ngerti Logistik di TikTok, Instagram Reels, dan Facebook Reels. Penjelasan singkat setiap minggu.